Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Dari 20 Museum di Yogyakarta

Yogyakarta memiliki banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah, dari masa ke masa. Baik jaman kerajaan maupun masa perjuangan melawan penjajah. Keberadaan peninggalan-peninggalan tersebut banyak tersimpan di beberapa museum yang ada di Yogyakarta. Yogyakarta yang mendapat Julukan kota pelajar menjadi tujuan utama untuk menimba ilmu, berikut beberapa museum yang dapat menjadi referensi untuk mengingat kembali perjalanan sejarah baik kota Yogyakarta maupun secara nasional.

1. Museum Sonobudoyo, Alun-alun Utara Yogyakarta

Museum ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada tahun 1935. Sedangkan pengagas Museum ini adalah sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Bali, dan Lombok yang bernama Java Institut.  Museum ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada tahun 1935, setelah melalui proses yang panjang. Pengelola museum ini berganti-ganti. Pada masa penjajahan Jepang di kelola oleh Kantor Sosial Bagian Pengajaran. Setelah  kemerdekaan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengelola museum ini. Tahun 1974 pengelolaan berpindah ke Departemen pendidikan dan Kebudayaan. Setelah otonomi daerah museum diurusi kembali oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

2. Keraton Yogyakarta

Dengan menempati area seluas 1,3 km persegi keraton dibangun dengan konsep kosmologi Jawa  bahwa alam terbagi menjadi 3 bagian yakni atas sebagai tempat para dewa, tengah sebagai tempat manusia dan bawah sebagai tempat kekuatan jahat. Bagian atas dan bawah dibagi lagi menjadi 3 bagian. Sejarah terbentuknya Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat panjang yakni dimulai dengan keberadaan Ki Ageng Pemanahan putra Ki Ageng Ngenis atau cucu ki Ageng Selo. Pada tahun 1558 M ia mendapat hadiah dari Sultan Pajang karena jasanya mengalahkan Arya Penangsang berupa tanah di wilayah Mataram. Pada tahun 1577 Ki Ageng Pemanahan membangun istana di sekitar Kotagede. Selama hidupnya Ki Ageng Pemanahan tetap setia kepada Sultan Pajang sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1584. Akhirnya, putera Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya diangkat oleh Sultan Pajang menggantikan Ayahnya sebagai penguasa Mataram.

3. Museum Affandi, Jalan Solo



Tak perlu punya latar belakang sebagai pelukis untuk bisa menikmati karya Affandi.Lukisan-lukisan Affandi mampu menerobos alam pikiran siapapun.Karya-karya ini diperuntukkan bagi penikmat seni lintas generasi.  Untuk itu bersiaplah memasuki dunia Affandi, sang maestro lukis Indonesia.Tidak banyak seniman yang mengabadikan karyanya dalam museum atau galeri yang tertata apik.Di Museum Affandi kita tidak hanya melihat lukisan Affandi semata namun bagaimana lukisan tersebut menjadi salah satu noktah sejarah seni Indonesia.

4. Museum Wayang Kekayon, Jalan Wonosari, Piyungan

Museum Wayang Kekayon terletak di Jalan Raya Yogyakarta – Wonosari Km 7, Baturetno, Banguntapan, Kabupaten Bantul Yogyakarta, akses untuk menuju ke museum ini sangat mudah karena berada di kawasan jalan raya Yogyakarta- Wonosari.  Museum Wayang Kekayon didirikan untuk melesatarikan dan memberi pengetahuan kepada generasi penerus agar tidak melupakan seni dan budaya bangsa ini agar tidak diakui oleh bangsa lain. Museum ini diresmikan pada tanggal 5 Januari 1991 oleh Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam VII dan mulai dibuka oleh umum pada waktu itu. Bangunan museum ini mempunyai bangunan khas Jawa, yaitu rumah adat joglo.

5. Museum Ullen Sentalu, Kaliurang, Sleman

Museum ini terletak di Jl. Boyong, Kaliurang, Yogyakarta. Pemrakarsa pembangunan museum ini adalah keluarga Haryono dari Yogyakarta dalam naungan Yayasan Ulating Blencong dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam ke VIII. Tempat yang dipilih sebagai lokasi museum disebut Taman Kaswargan yang berarti taman surga karena berada di atas ketinggian kaki Gunung Merapi dengan hawa yang sejuk dan hijaunya pepohonan yang rindang dengan area seluas 11.990 m2. Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataning Lumaku yang berarti pelita kehidupan sejati bagi jalan hidup manusia.

6. Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Lanud Adisucipto.


Lokasi museum berada di Jl. Kolonel Sugiyono komplek Landasan Udara Adisutjipto Yogyakarta, 10 km kearah timur dari pusat kota atau sebelah timur jembatan layang Janti. Museum ini lebih dikenal dengan nama Museum Dirgantara. Museum ini menempati area seluas kurang lebih 5 hektar dengan luas bangunan sebesar 7.600 m2.Museum ini merupakan museum terbesar dan paling lengkap koleksinya yang mengungkap sejarah keberadaan TNI AU di Indonesia.

7. Museum Benteng Vredeburg, Malioboro

Benteng Vredeburg terletak di Jl. A Yani No. 6, persis didepan Gedung Agung atau utara titik nol kilometer. Bangunan ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1760, atas permintaan pemerintahan Belanda yakni, Nicolas Harting.Bangunan mulanya hanya sebuah benteng yang berbentuk bujur sangkar dengan tiap sudutnya memiliki tempat penjagaan disebut seleka atau bastion. Keempat sudut tersebut di beri nama untuk masing-masing arahnya. Untuk bastion yang berada di sudut barat laut dinamai Jayawisesa, sudut timur laut diberi nama Jayapurusa, sudut bara daya diberi nama Jayaprakosaningprang  dan sudut tenggara diberi nama Jayaprayitna.

8. Museum Kereta Keraton Ngayogyakarta, Rotowijayan, Ngasem

Keberadaaan museum ini sudah sangat lama, yakni sudah dirintis pada masa kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono VII, dan tidak akan dijumpai dimanapun. Hanya Keraton Yogyakartalah yang memilikinya.Lokasi museum kereta ini berada tidak jauh dari keraton tepatnya disisi barat daya Alun-alun Utara yakni di Jl. Rotowijayan, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta.

9. Museum Puro Pakualaman

Pakualaman merupakan satu bentuk kadipaten yang terbentuk pada masa pemerintahan Belanda dengan Gubernur Herman Willem Daendels yang berkuasa antara tahun 1808 sampai dengan 1811. Awal pembentukan Pura Pakualaman ini dimaksudkan Belanda untuk memecah belah lingkup Keraton Kasultanan Yogyakarta yakni dengan mengangkat wakilnya di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Hal tersebut ditentang oleh Sultan Hamengku Buwono II yang saat itu masih bertahta.

10. Museum Batik Yogyakarta, Jalan Dr Sutomo

Museum Batik Yogyakarta berada di daerah Jalan Soetomo no. 13A, Rt 049/ RW 12, Kecamatan Danurejan Yogyakarta. Batik merupakan warisan dan sejarah hasil karya tangan kreatif Indonesia. Pada 2 Oktober 2009 batik dikukuhkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO di Abu Dhabi. Museum Batik Yogyakarta didirikan oleh swasta dan diresmikan pada 12 Mei 1977 oleh Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan DIY. Sampai sekarang Museum Batik Yogyakarta ini menyimpan sekitar 1.200 koleksi batik, terdiri dari 500 lembar kain batik tulis, 560 batik cap, 124 canting, 35 wajan dan bahan pewarnaan termasuk malam. Sambil berwisata Anda dapat pelajaran tentang proses membatik, alat dan bahan yang digunakan sampai arti dari motif- motif batik.  Batik yang dipamerkan tidak hanya batik Yogyakarta, di museum ini juga terdapat batik Solo, batik Pekalongan, batik Banyumas, dan batik Klaten.

11. Museum Dewantara Kirti Griya, Jalan Taman Siswa



Museum Dewantara kirti griya berada di kompleks Tamansiswa, Jalan Tamansiswa no.31 Yogyakarta. Banyak akses untuk menuju ke museum ini yang memudahkan Anda untuk berkunjung ke Museum Dewantara. Museum Dewantara  berusaha merekam jejak Ki Hajar Dewantara, dan kronologi sejak beliau ia muda sampai meninggal. Museum Dewantara ini sendiri diresmikan pada tahun 1970.Ki Hajar Dewantara lahir dari keturunan raja dan dia mempunyai gelar dengan sebutan Raden Mas. Beliau mempunyai nama asli Soewardi  Soerjaningrat, beliau melepas mengganti namanya dengan sebutan Ki Hajar Dewantara sejak dia meninggalkan gelar identitas kebangsawanannya. Ki Hajar Dewantara merupakan sarjana lulusan salah satu Universitas di Belanda dan ia merupakan pendiri dari gerakan tiga serangkai yaitu, Dr. Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai langkah media untuk melawan Hindia Belanda di ranah politik dan pendidikan. Kini namanya akan selalu dikenang setiap tanggal 2 Mei, yang merupakan Hari Pendidikan Nasional.

12. Museum Monumen Pangeran Diponegoro Sasana Wiratama, Tegalrejo, Yogyakarta

Untuk mengingat perjuangan dan beberapa peninggalannya maka tempat tinggal Pangeran Diponegoro yang terletak di Kampung Tegalrejo, 5 km barat laut dari pusat kota Yogyakarta dengan luasan 2,5 hektar. Dibangun monumen pada bangunan prigitan yang diprakarsai oleh Mayjen Surono yang saat itu menjabat sebagai pangdam dan diresmikan oleh Presiden Soeharto. Monumen ini merupakan relief pahatan yang di pahat oleh seniman patung Drs. Saptoto dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dibantu Sutopo, Sukodiharjo dan Askabul.Panjang pahatan sekitar 20 meter dengan tinggi 4 meter.

13. Museum Perjuangan Yogyakarta, Jalan Kolonel Sugiono



Jika Anda ingin mengenal dan ingin lebih tahu tentang perjuangan bangsa Indonesia, datang dan berwisata  ke Museum Perjuangan Yogyakarta. Museum perjuangan yogyakarta terletak di jalan Kolonel Sugiyono no. 24. Museum yang menyimpan kenangan bangsa- bangsa Indonesia mulai dari senjata yang dahulu digunakan untuk perang sampai replika pejuang- pejuang bangsa ini. Museum yang didirikan pada tahun 20 Mei 1985 dan diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX bertujuan untuk mengingatkan kepada generasi penerus agar selalu ingat kepada sejarah, semangat dan perjuangan bangsa ini. Namun sayang sekali museum ini masih sepi pengunjung, hanya waktu libur banyak wisatawan yang datang ke museum ini. Jadikan museum perjuangan ini sebagai media untuk mendidik anak – anak Anda agar tahu dan tidak lupa perjuangan bangsa Indonesia.

14. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, Jalan Jenderal Sudirman

Museum TNI Angkatan Darat, Dharma Wiratama yang terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 75 Yogyakarta, merupakan bagian dari Dinas Sejarah Angkatan Darat dari hasil validasi dari Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat pada tanggal 5 Nopember 2008. Perintisan ini dimulai sejak tahun 1956 oleh Disjarahad yang dulunya bernama SMAD (Sejarah Militer Angkatan Darat). Museum ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada generasi penerus tentang sejarah TNI AD dan mewariskan nilai-nilai perjuangan para pahlawan bangsa.

15. Museum Sasmitaloka Pangsar Sudirman, Bintaran Wetan

Museum Sasmitaloka berada di Jalan Bintaran Wetan no.3 , Yogyakarta. Museum Sasmitaloka merupakan penghargaan bagi Jendral Sudirman karena dedikasinya pada bangsa Indonesia. Pengorbanannya  luar biasa untuk bangsa ini. Sesuai dengan namanya  museum ini memiliki arti ”rumah untuk mengenang”. Ya, Anda akan diajak kembali untuk mengingat  perjuangan, perjalanan hidup dan dedikasinya pada masa perjuangan. Museum ini merupakan sebuah biografinya sejak masa kecil di Purwokerto sampai akhirnya meninggal dan dimakamkan di Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Rumah yang sebelumnya menjadi Museum Pusat TNI AD ini diresmikan menjadi Museum Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman pada Tanggal 30 Agustus 1982. Memiliki 14 ruangan yang disetiap ruangannya terdapat cerita yang disusun secara kronologis tentang kehidupan dan perjuangan Jenderal Sudirman. Anda akan mendapatkan pelajaran banyak tentang Jendral Sudirman di museum ini.

16. Museum Monumen Jogja Kembali, Ringroad Utara, Sleman

Monumen ini dibangun segaris dengan sumbu imajiner, yakni Merapi, Tugu, Keraton Kasultanan dan Parangtritis. Lokasi tepatnya di dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, dipinggir Jalan Lingkar Utara (Ringroad Utara). Dari kota Yogyakarta jaraknya sekitar 10 km ke arah utara. Museum ini menempati lahan seluas 5,6 hektar dimulai dengan upacara tradisional berupa penanaman kepala kerbau serta peletakan batu pertama pada tanggal 29 Juni 1985 yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada tanggal 6 Juli 1989 monumen ini selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden waktu itu Presiden Soeharto. Bangunan berbentuk kerucut dengan tinggi 31,8 meter ini mengambarkan tumpeng yang bentuknya seperti gunung yang jika dihubungkan dalam pewayangan melambangkan gunungan yang berarti melambangkan kebahagian kesucian.

17. Museum Tembi (Rumah Budaya Tembi), Jalan Parangtritis, Bantul

Desa Tembi dahulu merupakan salah satu tempat bagi abdi dalem katemben yang tugasnya menyususi anak-anak dan kerabat raja. Maka desa ini kemudian dinamai Dusun Tembi. Ada pula yang menganggap jika berkunjung ke dusun ini akan mendapatkan kemuliaan bak raja. Pada zaman yang lalu karena latar belakang desa tersebut. Didesa yang terletak di Jalan Parangtritis Km. 8,4 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul itu terdapat Museum Rumah Budaya Tembi atau Tembi House of Culture. Museum yang menempati tanah seluas 3500 meter persegi dengan luas bangunan utama 212 meter persegi dan luas seluruh bangunan mencapai 1057 meter persegi. Desa tembi merupakan kawasan kampung Kerajinan GMT (Gabusan –Manding – Tembi) yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X tepatnya pada 31 Agusutus 2007.

18. Museum Biologi UGM, Jalan Sultan Agung

Museum Biologi UGM terletak di Jalan Sultan Agung no. 22, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta. Museum ini dibangun dan didirikan sebagai media pembelajaran alam dengan koleksi  4.000 spesies. Terdiri dari spesimen hewan dan tumbuhan dalam bentuk awetan kering dan basah, serta fosil yang terdapat dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa dari luar negeri. Museum ini dikelola oleh Fakultas Biologi UGM dan diresmikan pada tahun 1969, sebagai media pembelajaran untuk dosen , guru, pelajar , mahasiswa dan umum. Museum yang mengkhususkan pada koleksi flora dan fauna yang diawetkan ini merupakan satu- satunya di Yogyakarta bahkan di Indonesia. Museum ini dibagi menjadi delapan ruangan dengan  setiap ruangan mempunyai koleksi dan keistimewaannya yang berbeda- beda.

19. Museum Geoteknologi Mineral, komplek UPN “Veteran” Babarsari, Sleman

Banyak cara untuk belajar tentang bumi dan seisinya. Museum Geoteknologi Mineral menjadi salah satu sarana untuk belajar  tentang bumi dan seisinya. Museum ini terletak di Jalan Babarsari no.2, Yogyakarta. Diresmikan pada tanggal  21 Februari 1988 oleh Menhankam RI Jendral (purn) Poniman.  Sebagian koleksinya merupakan buah tangan dari dosen UPN yang diharuskan membawa ‘buah tangan’ setiap pulang dari lapangan. Museum Geoteknologi sangat menarik untuk dikunjungi karena barang koleksinya cukup menakjubkan. Museum ini menjadi media pembelajaran untuk ilmu kebumian, geologi, pertambangan, fosil, gunung merapi, aktivitas kegempaan, gambar dan replika kerangka.

20. Museum Anak Kolong Tangga, Sriwedani.



Museum Anak Kolong Tangga terletak di gedung Taman Budaya lantai 2, jalan Sriwedari no. 1 Yogyakarta. Museum ini masih satu kompleks dengan Taman Pintar Yogyakarta dan Shopping Center. Akses untuk menuju museum ini sangat mudah, bisa menggunakan angkutan umum dan mobil pribadi karena destinasi tersebut hanya berjarak 3 km dari pusat kota dan dapat ditempuh selama 5-10 menit dari Malioboro maupun Pasar Beringharjo. Museum ini sendiri didirikan oleh Rudi Corens yang merupakan seniman keturunan Belgia. Rudi Coren mendirikan museum ini karena prihatin melihat masyarakat Indonesia yang melupakan budayanya sendiri, khususnya permainan tradisional. Akhirnya pada tanggal 2 Februari 2008 museum ini diresmikan. Museum ini juga bertujuan sebagai media pembelajaran bagi anak- anak agar lebih mengerti tentang budaya Indonesia. Bagi yang sedang datang berwisata ke Yogyakarta tidak ada salahnya mengajak putra dan putri Anda untuk datang ke Museum Anak Kolong Tangga. Anak- anak Anda akan dimanjakan dengan berbagai koleksi mainan tradisional asli Indonesia dan berbagai komik, poster dan koleksi lainnya yang berasal dari lima benua.

Itulah 20 museum yang ada di sekitaran Yogyakarta yang bida dijadikan wahana rekreasi sambil belajar buat putra-putri di saat liburan. Semoga artikel ini bermanfaat. Terima kasih